Musik

November 27th, 2006

Musik, rajutan benang-benang nada yang tersulam dengan rapih sehingga menghimpun aura keindahan. Dengan komposisinya yang tepat, disertai tiupan penjiwaan sang komposer, nada-nada didalamnya menjadi memiliki ruh dan hidup, memanggil-manggil setiap penikmatnya melalui telinga-telinga mulia titipan Ilahi, langsung menghujam kedalam hati dan menenggelamkan mereka kedalam lautan makna yang ingin disampaikan sang komposer. Tidak jarang kita terbawa suasana oleh sebuah lagu, lagu yang membawa kita melintasi dimensi ruang dan waktu yang dibangkitkan oleh benak kita. Kita kembali merasakan kebahagiaan yang menyegarkan membawa sejuta harapan, atau kembali merasakan mencekamnya sebuah perkelahian, bahkan mungkin membawa kita kembali menikmati semerbak harum romansa, lalu menenggelamkan kita dalam samudra kesedihan yang luas, dalam, dingin dan gelap, mengiris jiwa meremukkan batin.

Musik memiliki kekuatan luar biasa, karena ia ber-resonansi terhadap hati manusia, setiap dinamikanya seperti memiliki pelatuk yang siap memicu dimensi emosi manusia. Dalam crescendo-nya yang membakar membara meledak-ledak, ataupun redaman diminuendo yang menghantarkan kedamaian. Setiap nada memanggil jiwa dan setiap panggilan yang dikenali akan segera dijawab oleh jiwa dengan menjiwai jasad.

Bumi, tempat tinggal berbagai makhluk, dimana setiap makhluknya memiliki jiwa, bahkan pada hakikatnya setiap makhluk yang hidup maupun mati memiliki jiwa, jiwa yang selalu bertasbih kepada sang pencipta. Bahkan bumi sendiripun memiliki jiwa yang selalu bertasbih, mendoakan setiap perbuatan baik.

Jiwa-jiwa yang ada didalam jasad alam jagat raya, akan menjawab panggilan dari nada yang dilantunkan oleh sang komposer sejati, nada yang ditiupkan oleh malaikat suciNya melalui sangkakala pada hari Akhir, nada yang menggetarkan setiap materi hingga luluh lantak di seaentero alam semesta, nada yang menerbangkan gunung-gunung bak dedaunan, nada yang meluruhkan gravitasi sehingga mengaduk setiap galaksi, nada yang memanggil yang dicipta kembali kepada sang pencipta.

Semoga kita temasuk orang-orang yang menjawab ketika dipanggil olehNya, semoga hanya kerinduan yang ada di dalam hati kita sehingga tidak ada rasa takut akan getaran panggilanNya. Amien.

“Youth of Nation”

November 21st, 2006

Pemuda Bangsa, seperti yang diteriakan oleh grup musik POD dalam lagunya yang berjudul sama dengan judul goresan ini. Apakah pemuda itu…

Makhluk hidup yang dikenal dengan sebutan manusia, mengalami masa kejayaannya di saat kekuatan fisiknya sedang dipuncak, di saat ketajaman berpikirnya mampu mengiris analisis-analisis dengan kritis. Masa ini adalah masa yang hanya dilewati satu kali dalam kehidupan manusia.
Taruhlah umur maks. manusia 70tahun, 1-12th anak-anak, 12-17remaja, 17-30dewasa -Phisically-, 30-70menua -degradasi secara fisik-, lalu mati, terkubur menjadi makanan belatung dan di daur ulang oleh alam.
Masa kejayaan manusia terletak ketika ia mampu mengembangkan dirinya hingga ke puncak kualitas kemanusiaannya.
Kemampuan terbesar untuk mengembangkan diri seorang manusia adalah ketika tenaganya masih prima dan pikirannya belum pikun. Karena setelah masa itu kesempatan menjadi terbatas oleh fisik yang mulai sakit-sakitan dan pikiran yang mulai congkak karena merasa berpengalaman.

Nature_012Ada sebuah petuah bijak "Serahkan pengembangan ide kepada kaum muda karena sekarang zaman milik mereka, dan serahkan pengambilan keputusan kepada kaum tua karena mereka memiliki pertimbangan-pertimbangan yang lebih matang dari perjalanan zaman mereka".

Para pemuda -termasuk ane- pasti mengalami fase-fase transisi hingga pada akhirnya sampai pada sebuah
fase yang mapan / fase kedewasaan. Tetapi sebelum mencapainya mayoritas pemuda mengalami fase pembelajaran atau fase pengamatan terhadap alam sekitar yang diikuti dengan fase peniruan, terlihat dari para pemuda yang meniru idola mereka, bisa bintang pelem, rock star, orang tua, saudara, teman, pak Lurah, siapa sajalah. Mereka meniru/meng-imitasi mulai dari gaya rambut, cara berpakaiaan, musik favorit, cara berbicara, apa saja yang penting menyerupai idola tersebut. Alasannya macam-macam, agar diterima disebuah komunitas, tampil beda, menarik perhatian lawan jenis, menarik perhatian sesama jenis, pemberontak, tetapi pada intinya semua itu untuk mendapatkan sebuah "pengakuan" dari lingkungan, kita sebut saja pemuda pada fase ini sebagai pemuda tiruan -He..-

Pada perjalananya pemuda tiruan ini biasanya memiliki kegelisahan, kegelisahan ini membawa mereka pada fase selanjutnya fase pendewasaan, mereka merasakan kebosanan sebagai tiruan, karena menurut mereka setiap manusia itu unique atau berbeda satu sama lain, bahkan saudara yang kembar identik pun pasti berbeda, tetapi dilain sisi setiap makhluk hidup yang disebut manusia ini memiliki kesamaan, yaitu mereka di golongkan sebagai ‘Manusia‘ bukan hewan atau tumbuhan. Pemuda ini merasa bahwa ia harus mencari titik temu persamaan manusia ini melalui melalui perjalanannya sendiri yang unique.


Ketika fase pendewasaan ini dipertahankan maka ia memasuki fase kedewasaan, makhluk yang digolongkan menjadi manusia ini sedang belajar arti dari kemanusiaan, sehingga hidupnya yang taruhlah 70th ini -mungkin kurang- menjadi lebih berarti, dan menorehkan goresan kecil penuh makna dalam kehidupan kemanusiaannya yang singkat, ketimbang pada akhirnya hanya mati, terkubur menjadi makanan belatung dan didaur ulang oleh alam. Ia pernah berjalan di muka bumi ini sebagai ‘manusia merdeka‘ dan menjadi bagian dari alam semesta bukan dari wujud fisiknya yang membusuk dan terdaur ulang saja, tetapi juga menjadi bagian dari alam semesta secara esensi.

Memalukan

November 21st, 2006

Indonesia dihebohkan oleh kedatangan presiden USA ([U]nited [S]tate of w[A]r initiator) G.W. Bush.  pada tanggal 20 November 2006 kemarin.

Terlepas dari permasalahan penyambutan yang memang keterlaluan, dan kerugian yang tidak sedikit yang dialami masyarakat bogor. Rizal Malarangeng yang mengaku orang Indonesia dan katanya beragama, melakukan kampanye sekuat tenaga untuk mendukung dan mengharumkan nama USA ([U]nited [S]tate of w[A]r initiator) yang diwakili oleh presidennya. Terbukti dari argumentasi subyektif yang selalu ia lontarkan di seluruh stasiun TV yang mengundangnya dalam mengomentari peristiwa tersebut. Pernyataan-pernyataan  yang ia lontarkan sangatlah sekular,  seperti  "Irak itu masalah lain Kunjungan Bush ke Indonesia masalah lain lagi", dengan kata lain, kita lupakan dulu pembunuhan rakyat Irak, Afghanistan, dan Palestina yang dimotori Amerika,  mereka -Amerika- mau menawarkan harapan untuk membangun Indonesia.

Manusia macam apa yang mengundang dan mengagungkan pemerintahan yang menyerang negara lain hingga terjadi kemunduran hingga 50 tahun di negara jajahannya. Banyak anak Indonesia yang belajar di negeri paman Sam tetapi tidak semuanya dimabukkan oleh kemegahan Amerika seperti bung Rizal Malarangeng, muncul pertanyaan, udah dikasi apa sih bung Rizal Malarangeng oleh USA ([U]nited [S]tate of w[A]r initiator)? apa mungkin lagi cari aman supaya tidak seperti Sri Bintang Pamungkas yang ditahan hingga Reformasi…….

Oh Indonesiaku,
Ada dimana kamu?