Manusia
‘Manusia’ menjadi manusia ketika ‘ia’ berjalan menuju asal usul keberadaannya dan
dalam kecepatan yang sama ‘ia’ sedang membentuk kemanusiaannya.
Dengan kata lain seseorang belum layak menyebut dirinya manusia jika ia belum
mengenal –mengetahui bahwa ia adalah akibat dari suatu ’sebab’– dirinya.
Apakah ‘ia’ hanya seonggok daging yang berjalan di dunia tanpa suatu arti dan sakralitas?
Pencarian jati diri bukan hanya perjalanan kedewasaan untuk mencapai suatu posisi
sosial di kehidupannya sehingga ‘ia’ bisa berdiri tegar di tengah masyarakat,
tetapi kesempurnaan pemahaman, yang mampu menghimpun semua segi positif dari manusia menjadi nyata.
Dengan sendirinya ‘ia’ menjadi berharga bagi dirinya, orang lain, dan alam sekitar,
‘ia’ menjadi manusia –atau perwujudan kemanusiaan–
Didalam diri setiap bayi memiliki potensi ‘manusia’ yang sama, kasih sayang orangtua, pengalaman,
dan pengetahuan yang akan menempanya.