KEMATIAN PEJUANG GAZA, MENGHIDUPKAN PEJUANG DUNIA !

January 1st, 2009

Bismillahhirrahmanirrahim

Pertama-tama, kami ucapkan belasungkawa dan dukacita yang sedalam-dalamnya kepada banga palestina pada khususnya dan seluruh Muslimin pada umumnya, atas penyerangan brutal dan pembantaian besar-besaran yang dilakukan Zionis-Israel atas bangsa Palestina di Jalur Gaza pada 27 Desember lalu (yang menewaskan lebih dari 400-an jiwa serta melukai lebih dari 800-an orang), juga pada hari-hari sebelum maupun sesudahnya.

Sekaitan dengan kejadian berdarah ini, Ismail Haniya, pemimpin gerakan HAMAS (faksi perlawanan kaum Muslim terhadap Zionis-Israel di Gaza) langsung mengatakan, “Kini Gaza memang terluka, Gaza memang berduka akibat kejadian menyedihkan ini. Tapi semua ini tidak akan pernah menyurutkan semangat seluruh Muslimin di Gaza untuk terus memperjuangkan hak-haknya untuk merdeka.”

Pembantaian atau pembunuhan besar-besaran semacam ini tentunya sudah sangat umum terjadi di Palestina dan di dunia sepanjang sejarah. Lebih dari itu, ada jenis pembunuhan lain yang jauh lebih menyakitkan dan lebih luas dampaknya di tengah kehidupan umat manusia, yaitu pembunuhan karakter terhadap umat manusia, terhadap kaum mukminin, kaum muslimin sedunia. Akibat darinya, mereka akan kehilangan nilai-nilai keislaman, nilai-nilai kemanusiaan, pada dirinya sehingga menjadikan mereka tidak peduli terhadap tindak kejahatan dan kebiadaban yang dilakukan oleh Zionis-Israel.

Dengan menunggangi PBB, Amerikat Serikat dan Zionis-Israel berikut negara-negara yang mengekor mereka, sudah menganggap dirinya begitu perkasa dan berhasil dalam hal ini. Meskipun pada kenyataannya mereka tak lebih dari negara-negara yang lemah—persis seperti ungkapan, “Segala yang jahat berasal dari kelemahan”. Ini sebagaimana pernah dibuktikan langsung oleh Hizbullah, faksi perlawanan di Lebanon Selatan yang dipimpin Sayyid Hasan Nasrallah, sewaktu menghajar dan mengalahkan telak pasukan Zionis-Israel yang bersenjata canggih dan didukung Amerika Serikat cs dalam perang selama 33 hari pada 2006.

Berkenaan dengannya, muncul pertanyaan, mengapa umat manusia, khususnya Muslimin, terlebih yang berada di Indonesia. seolah tidak peduli terhadap seluruh kebiadaban dan kejahatan fisik yang nyata-nyata dipertontonkan Zionis-Isarel selama ini? Ini merupakan bukti nyata bahwa pembunuhan karakter yang dilancarkan Zionis-Israel telah berlangsung di Indonesia dalam skala yang besar-besaran sehingga kebanyakan mereka tidak mau mendengar panggilan dan menyambut kegigihan para pejuang Palestina yang tidak pernah berputus asa dalam perjuangan ini.

Dalam pada itu, Zionis-Israel , termasuk Amerika Serikat, dengan segala kekuatan yang mereka miliki, serta berdasarkan pandangan-pandangan mereka yang sesat dan pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang, sedang menjalankan sebuah proyek besar berjangka panjang, yakni menggiring umat manusia untuk lebih cenderung pada nilai-nilai kehidupan dunia dan pemenuhan kepentingan-kepentingan pribadi mereka seraya menafikan nilai-nilai insaniah (kemanusiaan) dan prinsip-prinsip agama.

Sejauh ini, bangsa Palestina masih bersabar dalam menghadapi tekanan-tekanan yang dilancarkan Zionis-Israel sang penjajah. Mereka bersabar melewati hari-hari mereka dengan rasa takut dan kekhawatiran yang berkepanjangan. Mereka setiap hari ditekan dengan rasa lapar, kekurangan segala kebutuhan hidup yang bersifat primer, serta minimnya dukungan. Ini sebagaimana firman Allah Swt dalam al-Quran al-Karim:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. al-Baqarah [2]: 155)

Namun demikian, di sisi lain, umat manusia memiliki tanggung jawab yang besar untuk peduli dan ikut memperjuangkan hak-hak mereka (para pejuang Palestina). Dalam kesempatan dan sarana berupa kekejaman Zionis-Israel yang terjadi belakangan ini, maka dengan bahasa al-Quran, bahasa insaniah dan ruhaniah, kami menyeru dan mengajak kaum Muslimin di seluruh dunia pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya, untuk bangun dari tidur panjangnya. Sadarlah bahwa Anda sebagai Muslimin, juga keluarga Anda, sudah “dibunuh” oleh Zionis-Israel. Sadarilah bahwa diakibatkan itu, Anda sekalian sudah tidak lagi memiliki ruh agama dan ruh kemanusiaan. Kami mengimbau Anda sekalian untuk segera dan sekarang juga secara bersama-sama, bangkit dan melakukan perlawanan serta pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, ruhaniah, keagamaan, dan keadilan. Kami mengajak setiap Muslim di Indonesia pada khususnya, dan di seluruh belahan dunia pada umumnya, untuk terus-menerus dan tidak pernah berhenti menghidupkan syiar yang diperjuangkan oleh bangsa Palestina serta melontarkan kutukan abadi kepada Zionis-Israel.

Kaum Muslimin harus yakin bahwa dengan takbir yang terus dikumandangkan, serta laknat dan kutukan yang terus ditujukan kepada musuh dan penjahat kemanusiaan ini, maka doa, dukungan moral, spiritual yang riil kepada pejuang Palestina, menjadi sesuatu yang harus segera, saat ini juga, dan selalu dilakukan tanpa henti. Harapannya, semua ini menjadi momen penyadaran atas kelengahan dan kalalaian terhadap kebiadaban yang dilakukan Zionis-Israel, sekaligus membukakakn mata kaum Muslimin. Dan umat Islam di seluruh dunia dapat membuktikan bahwa upaya jahat mereka yang berjangka lama untuk membunuh karakter umat Muhammad saw, karakter al-Quran, Sunah, kemanusiaan, dan spiritual di tengah umat manusia, pada dasarnya telah kandas dan gagal total berkat kebangkitan kaum Muslimin di seantero jagat.

Ya, kaum Muslimin harus bangun dari tidur panjangnya dan tidak membiarkan kekuatan congkak warisan setan Amerika cs, menguasai diri mereka, dengan kembali pada al-Quran, pada keimanan. Setiap hari dan terus menerus, kita harus menyuarakan hak-hak bangsa Palestina untuk merdeka. Ketahuilah bahwa pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah Swt dan kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala kejahatan yang terjadi. Diamnya kita bermakna dukungan dan pembenaran terhadap kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan terhadap bangsa Palestina. Ini sebagaimana diamnya negara-negara Arab, khususnya Mesir dan Yordania, dengan alas an pakta pertahanan, yang pada hakikatnya ikut memerangi bangsa Palestina. Diamnya negara-negara Arab di sekeliling Palestina, khususnya Mesir dan Yordania, menyebabkan Israel dengan leluasa memborbardir dan membunuhi banga palestina. Anehnya, Mesir sudi membuka gerbang perbatasannya dengan Jalur Gaza hanya untuk keperluan medis semata, bukan untuk semua bangsa Palestina.

Demi Allah, perang tengah berkecamuk dengan sengit, dan kita semua terlibat da di dalamnya. Kita semua telah menjadi korban dari semua peperangan itu. Maka dari itu, bangkitlah dan persiapkan semua kekuatan untuk melawan para penjahat titisan setan itu. Bukankah kaum Muslimin itu bersaudara satu sama lain? Bukankah kaum Muslimin itu satu tubuh? Apakah cukup beralasan bahwa bangsa Palestina itu berbeda bangsa dengan kita sehingga kita boleh memutuskan hubungan keagamaan dan kemanusiaan dengan mereka? Apakah jarak jauh yang memisahkan kita dengan bangsa Palestina cukup dijadikan dalih bagi kita untuk tidak menjalankan perintah-perintah agama? Ketahuilah, setiap Muslim memiliki hak atas saudaranya. Jawaban apa yang akan Anda berikan di hadapan Allah Swt saat saudara Anda yang tertindas di Palestina menuntut hak-haknya yang ada di pundak Anda?

Sembari itu, kami juga sangat menghimbau para ulama, ilmuwan. Perlu Anda ketahui bahwa manfaat Anda bersumber dari sikap dan perbuatan Anda. Jangan sampai ketokohan anda sebagai ulama menjaditabir dan dalih yang membolehkan Anda berdiam diri. Kebijakan al-Quran, para nabi, juga para pewarisnya bukan dengan berdiam diri menyaksikan kejahatan dan kekejaman yang berlangsung detik per detik di hadapannya. Saya mengajak Anda untuk mendorong kaum muslimin bangkit dan melawan. Ketahuilah, Anda bertanggung jawab di hadapan al-Quran, di hadapan Rasulullah saw, dengan segala beban sebagai ulama di pundak Anda sekalian.

Allah Mahakuasa lagi Mahatahu. Wassalam

Anwararis

Ali ibn Abi Thalib by Edward Gibbon

July 21st, 2008

"The zeal and virtue of Ali were never outstripped by any recent proselyte.  He united the qualifications of a poet, a soldier and a saint;  his wisdom still breathes in a collection of moral and religious sayings; and every antagonist, in the combats of the tongue or of the sword, was subdued by his eloquence and valour.  From the first hour of his mission to the last rites of his funeral, the apostle was never forsaken by a generous friend, whom he delighted to name his brother, his vicegerent, and the faithful Aaron of a second Moses."

        - Edward Gibbon, The Decline and Fall of the Roman Empire

Aku Satu

September 3rd, 2007

bagi kekasih kematian adalah kendaraan tercepat
ialah sarana ternyaman tuk jumpai Dambaan jiwa setelah suarga

kematian adalah mahar terindah penyempurna rindu
sebagai debu dengan paduka biar menyatu

kematian ialah terangkatnya sekat
tersingkapnya segala hijab
biar hamba segera terjerembab di haribaanMu seluruh-luruhnya

kematian kapan jadwalku tiba lalu kita songsong Sang Haribaan?

Cinta adalah Api

August 5th, 2007

Betapa keindahan dan kekuatan imajinasi tak ada kata dan kanvas yang mampu mewakilinya.
Mereka akan semakin mempesona pada tataran gerak ruhaniah.
Anarkia.
Sebuah utopia para pecinta.
Diri (jasad) tak mampu mengikuti laju geraknya.
Sementara jasadlah yang mengandungnya.
Jika kita aktualisasikan itu,
jasad harus menderita bahkan mati
–akankah aku sanggup!

Hipokritas Indonesia di DK PBB

March 28th, 2007

      

Dukungan Menteri Luar Negeri Indonesia, Hasan Wirajuda,
      terhadap resolusi 1747 di Dewan Keamanan PBB terkait program nuklir Iran,
      sangat mengejutkan berbagai pihak di Indonesia. Padahal sebelum menjadi
      anggota DK PBB dan beberapa hari menjelang berlangsungnya sidang,
      Indonesia menyatakan mendukung program nuklir sipil Iran. Meski sampai
      saat ini belum ada sikap resmi dari pemerintah Iran, namun keputusan
      Indonesia merupakan pukulan terberat dalam hubungannya dengan Teheran.
      Keanggotaan Indonesia dalam DK PBB yang didukung oleh Organisasi
      Konferensi Islam (OKI) diharapkan dapat memperjuangkan kepentingan
      negara-negara Islam. Jika pada sidang Dewan Gubernur Badan Energi Atom
      Internasional (IAEA) tahun lalu, Indonesia menyatakan tidak menolak
      pelimpahan kasus nuklir Iran kepada DK PBB, paling tidak Indonesia
      diharapkan memberikan suara abstain terhadap resolusi 1747.

      

      Dukungan Indonesia terhadap resolusi anti-Iran itu menuai
      kecaman dan kritikan di dalam negeri. Mereaksi gelombang kritikan tersebut,
      Wirajuda mengatakan bahwa tujuan Indonesia mendukung resolusi itu adalah
      untuk memotivasi Iran agar bersedia kembali ke meja perundingan. Alasan
      itu terkesan mengada-ada dan lebih menyudutkan posisi pemerintah yang kini
      dinilai hipokrit dan menggulirkan kebijakan standar ganda.

      

      Saat ini, dalam tubuh pemerintahan Indonesia sendiri,
      terdapat jurang yang menganga lebar secara mendadak. Berbagai laporan
      media massa dalam negeri mengkonfirmasikan upaya sebagian besar faksi di
      DPR untuk menginterpelasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait sikap
      pemerintah terhadap resolusi DK PBB. Komisi I DPR RI urusan luar negeri
      dan pertahanan telah menyatakan kecamannya atas resolusi DK PBB yang
      menjatuhkan sanksi kepada Iran. Kecaman itu juga secara tidak langsung
      ditujukan kepada pemerintah yang ikut menganggukkan kepala saat voting
      berlangsung.

      

      Secara keseluruhan, sikap Indonesia terhadap resolusi
      program nuklir Iran, telah merusak upaya persatuan Islam dan dukungan
      terhadap independensi negara-negara Islam dalam melawan ketamakan Barat.
      Citra Indonesia sebagai bangsa muslim yang diharapkan dapat mandiri dalam
      berdiplomasi pun kini tercoreng dan nyaris musnah. Selain itu, dukungan
      terhadap resolusi merupakan manifestasi pengkhianatan terhadap rakyat yang
      selama ini optimis atas dukungan penuh pemerintah terhadap program nuklir
      Iran. Padahal dalam sidang DK soal kasus nuklir Iran, hanya dengan
      menyatakan abstain, Indonesia dapat mendongkrak kredibilitasnya di mata
      negara-negara Islam. [http://indonesian.irib.ir]

Sangat disesalkan pemerintah Indonesia berdiri diantara ketiak negara-negara pencinta penindasan, mereka telah menunjukan kualitas mereka yang tak punya pendirian. Resolusi 1747 ini dirancang untuk menguntungkan Amerika dan sekutu mereka, sedangkan kenyataan yang terjadi justru negara-negara ini lah yang meretas konflik-konflik di seluruh dunia, baik dalam tataran internasional maupun regional. Pemerintah Indonesia yang sekarang memiliki andil dalam menafikan hak  bangsa Iran dalam mendayagunakan tenaga Nuklir Sipil untuk tujuan perdamaian. Bagaimana kalian bisa membangun bangsa ini dengan mental bangsa terjajah.. Katanya sudah merdeka.. Mentalnya kok masih dijajah..

Ketika kurasakan detak jantungku

December 4th, 2006

Detak,
kau ayunkan langkahmu dengan pasti hingga akhirnya terhenti.
Jasad,
hanyut dalam detak menuju samudra misteri hingga akhirnya mati.
jiwa,
bergerak bersama jasad hingga akhirnya berpisah.

.

Akhir…

.

Akhir.. Apa yang akan kau sisakan dari jasad, jiwa dan detak jantungku?
Apakah ada ditanganmu atau ditanganku..
Apakah aku tak kuasa memilih warnamu..
Apakah tak mungkin kulihat wujud aslimu..

.

Izinkanlah semuanya lebur sirna dalam kesejatianNya..

Musik

November 27th, 2006

Musik, rajutan benang-benang nada yang tersulam dengan rapih sehingga menghimpun aura keindahan. Dengan komposisinya yang tepat, disertai tiupan penjiwaan sang komposer, nada-nada didalamnya menjadi memiliki ruh dan hidup, memanggil-manggil setiap penikmatnya melalui telinga-telinga mulia titipan Ilahi, langsung menghujam kedalam hati dan menenggelamkan mereka kedalam lautan makna yang ingin disampaikan sang komposer. Tidak jarang kita terbawa suasana oleh sebuah lagu, lagu yang membawa kita melintasi dimensi ruang dan waktu yang dibangkitkan oleh benak kita. Kita kembali merasakan kebahagiaan yang menyegarkan membawa sejuta harapan, atau kembali merasakan mencekamnya sebuah perkelahian, bahkan mungkin membawa kita kembali menikmati semerbak harum romansa, lalu menenggelamkan kita dalam samudra kesedihan yang luas, dalam, dingin dan gelap, mengiris jiwa meremukkan batin.

Musik memiliki kekuatan luar biasa, karena ia ber-resonansi terhadap hati manusia, setiap dinamikanya seperti memiliki pelatuk yang siap memicu dimensi emosi manusia. Dalam crescendo-nya yang membakar membara meledak-ledak, ataupun redaman diminuendo yang menghantarkan kedamaian. Setiap nada memanggil jiwa dan setiap panggilan yang dikenali akan segera dijawab oleh jiwa dengan menjiwai jasad.

Bumi, tempat tinggal berbagai makhluk, dimana setiap makhluknya memiliki jiwa, bahkan pada hakikatnya setiap makhluk yang hidup maupun mati memiliki jiwa, jiwa yang selalu bertasbih kepada sang pencipta. Bahkan bumi sendiripun memiliki jiwa yang selalu bertasbih, mendoakan setiap perbuatan baik.

Jiwa-jiwa yang ada didalam jasad alam jagat raya, akan menjawab panggilan dari nada yang dilantunkan oleh sang komposer sejati, nada yang ditiupkan oleh malaikat suciNya melalui sangkakala pada hari Akhir, nada yang menggetarkan setiap materi hingga luluh lantak di seaentero alam semesta, nada yang menerbangkan gunung-gunung bak dedaunan, nada yang meluruhkan gravitasi sehingga mengaduk setiap galaksi, nada yang memanggil yang dicipta kembali kepada sang pencipta.

Semoga kita temasuk orang-orang yang menjawab ketika dipanggil olehNya, semoga hanya kerinduan yang ada di dalam hati kita sehingga tidak ada rasa takut akan getaran panggilanNya. Amien.

“Youth of Nation”

November 21st, 2006

Pemuda Bangsa, seperti yang diteriakan oleh grup musik POD dalam lagunya yang berjudul sama dengan judul goresan ini. Apakah pemuda itu…

Makhluk hidup yang dikenal dengan sebutan manusia, mengalami masa kejayaannya di saat kekuatan fisiknya sedang dipuncak, di saat ketajaman berpikirnya mampu mengiris analisis-analisis dengan kritis. Masa ini adalah masa yang hanya dilewati satu kali dalam kehidupan manusia.
Taruhlah umur maks. manusia 70tahun, 1-12th anak-anak, 12-17remaja, 17-30dewasa -Phisically-, 30-70menua -degradasi secara fisik-, lalu mati, terkubur menjadi makanan belatung dan di daur ulang oleh alam.
Masa kejayaan manusia terletak ketika ia mampu mengembangkan dirinya hingga ke puncak kualitas kemanusiaannya.
Kemampuan terbesar untuk mengembangkan diri seorang manusia adalah ketika tenaganya masih prima dan pikirannya belum pikun. Karena setelah masa itu kesempatan menjadi terbatas oleh fisik yang mulai sakit-sakitan dan pikiran yang mulai congkak karena merasa berpengalaman.

Nature_012Ada sebuah petuah bijak "Serahkan pengembangan ide kepada kaum muda karena sekarang zaman milik mereka, dan serahkan pengambilan keputusan kepada kaum tua karena mereka memiliki pertimbangan-pertimbangan yang lebih matang dari perjalanan zaman mereka".

Para pemuda -termasuk ane- pasti mengalami fase-fase transisi hingga pada akhirnya sampai pada sebuah
fase yang mapan / fase kedewasaan. Tetapi sebelum mencapainya mayoritas pemuda mengalami fase pembelajaran atau fase pengamatan terhadap alam sekitar yang diikuti dengan fase peniruan, terlihat dari para pemuda yang meniru idola mereka, bisa bintang pelem, rock star, orang tua, saudara, teman, pak Lurah, siapa sajalah. Mereka meniru/meng-imitasi mulai dari gaya rambut, cara berpakaiaan, musik favorit, cara berbicara, apa saja yang penting menyerupai idola tersebut. Alasannya macam-macam, agar diterima disebuah komunitas, tampil beda, menarik perhatian lawan jenis, menarik perhatian sesama jenis, pemberontak, tetapi pada intinya semua itu untuk mendapatkan sebuah "pengakuan" dari lingkungan, kita sebut saja pemuda pada fase ini sebagai pemuda tiruan -He..-

Pada perjalananya pemuda tiruan ini biasanya memiliki kegelisahan, kegelisahan ini membawa mereka pada fase selanjutnya fase pendewasaan, mereka merasakan kebosanan sebagai tiruan, karena menurut mereka setiap manusia itu unique atau berbeda satu sama lain, bahkan saudara yang kembar identik pun pasti berbeda, tetapi dilain sisi setiap makhluk hidup yang disebut manusia ini memiliki kesamaan, yaitu mereka di golongkan sebagai ‘Manusia‘ bukan hewan atau tumbuhan. Pemuda ini merasa bahwa ia harus mencari titik temu persamaan manusia ini melalui melalui perjalanannya sendiri yang unique.


Ketika fase pendewasaan ini dipertahankan maka ia memasuki fase kedewasaan, makhluk yang digolongkan menjadi manusia ini sedang belajar arti dari kemanusiaan, sehingga hidupnya yang taruhlah 70th ini -mungkin kurang- menjadi lebih berarti, dan menorehkan goresan kecil penuh makna dalam kehidupan kemanusiaannya yang singkat, ketimbang pada akhirnya hanya mati, terkubur menjadi makanan belatung dan didaur ulang oleh alam. Ia pernah berjalan di muka bumi ini sebagai ‘manusia merdeka‘ dan menjadi bagian dari alam semesta bukan dari wujud fisiknya yang membusuk dan terdaur ulang saja, tetapi juga menjadi bagian dari alam semesta secara esensi.

Memalukan

November 21st, 2006

Indonesia dihebohkan oleh kedatangan presiden USA ([U]nited [S]tate of w[A]r initiator) G.W. Bush.  pada tanggal 20 November 2006 kemarin.

Terlepas dari permasalahan penyambutan yang memang keterlaluan, dan kerugian yang tidak sedikit yang dialami masyarakat bogor. Rizal Malarangeng yang mengaku orang Indonesia dan katanya beragama, melakukan kampanye sekuat tenaga untuk mendukung dan mengharumkan nama USA ([U]nited [S]tate of w[A]r initiator) yang diwakili oleh presidennya. Terbukti dari argumentasi subyektif yang selalu ia lontarkan di seluruh stasiun TV yang mengundangnya dalam mengomentari peristiwa tersebut. Pernyataan-pernyataan  yang ia lontarkan sangatlah sekular,  seperti  "Irak itu masalah lain Kunjungan Bush ke Indonesia masalah lain lagi", dengan kata lain, kita lupakan dulu pembunuhan rakyat Irak, Afghanistan, dan Palestina yang dimotori Amerika,  mereka -Amerika- mau menawarkan harapan untuk membangun Indonesia.

Manusia macam apa yang mengundang dan mengagungkan pemerintahan yang menyerang negara lain hingga terjadi kemunduran hingga 50 tahun di negara jajahannya. Banyak anak Indonesia yang belajar di negeri paman Sam tetapi tidak semuanya dimabukkan oleh kemegahan Amerika seperti bung Rizal Malarangeng, muncul pertanyaan, udah dikasi apa sih bung Rizal Malarangeng oleh USA ([U]nited [S]tate of w[A]r initiator)? apa mungkin lagi cari aman supaya tidak seperti Sri Bintang Pamungkas yang ditahan hingga Reformasi…….

Oh Indonesiaku,
Ada dimana kamu?

Manusia

December 5th, 2005

‘Manusia’ menjadi manusia ketika ‘ia’ berjalan menuju asal usul keberadaannya dan
dalam kecepatan yang sama ‘ia’ sedang membentuk kemanusiaannya.
Dengan kata lain seseorang belum layak menyebut dirinya manusia jika ia belum
mengenal –mengetahui bahwa ia adalah akibat dari suatu ’sebab’– dirinya.

Apakah ‘ia’ hanya seonggok daging yang berjalan di dunia tanpa suatu arti dan sakralitas?
Pencarian jati diri bukan hanya perjalanan kedewasaan untuk mencapai suatu posisi
sosial di kehidupannya sehingga ‘ia’ bisa berdiri tegar di tengah masyarakat,
tetapi kesempurnaan pemahaman, yang mampu menghimpun semua segi positif dari manusia menjadi nyata.

Dengan sendirinya ‘ia’ menjadi berharga bagi dirinya, orang lain, dan alam sekitar,
‘ia’ menjadi manusia –atau perwujudan kemanusiaan–

Didalam diri setiap bayi memiliki potensi ‘manusia’ yang sama, kasih sayang orangtua, pengalaman,
dan pengetahuan yang akan menempanya.